ads
ads ads ads ads

Jumat, 23 Desember 2011

Metode Pengajaran Rasulullah kepada sahabat #2

1. Variasi Rasulullah  dalam mengajar

Dari Abdullah Ibnu Mas’ud, ia berkata, “Rasulullah memberikan senggang waktu dalam memberikan mauidzah kepada kita, karena enggan membuat kami jemu.[1] Rasulullah khawatir para sahabatnya menjadi bosa, sehingga memperpanjang mauidzah atau variasi antara satu waktu dengan waktu-waktu lainnya, karena pengajaran secara berturut-turut membuat jiwa cepat bosan sehingga tidak efektif.


2. Memberikan Contoh Praktis

Rasulullah mengajarkan kepada para sahabat tentang al Qur’an ayat per ayat dengan menjelaskan kepada mereka. Sehingga mereka dapat memahaminya, mempelajari kandungannya dan mempratikkannya sendiri, baru kemudian menghafal yang lain. Berkenaan dengan hal ini, Abu Abdurrahman berkata, “Telah meriwayatkan kepada kami orang-orang yang mengajarkan Al Qur’an kepada kami, seperti Utsman bin Affan, Abdullah ibnu Mas’ud dan lain-lain bahwa mereka telah belajar sepuluh ayat dari Rasulullah, mereka tidak akan melanjutkannya, kecuali telah mengerti ilmu dan amal yang ada didalamnya. Mereka memberikan pengakuan, ‘kami belajar Al Qur’an, ilmu dan amal sekaligus’.”[2]

Hal senada juga diriwayatkan oleh Abu Wa’il dari Abdullah Ibnu Mas’ud.[3] Lebih dari itu ada sebagian sahabat yang bermukim di sisi rumah Rasulullah untuk belajar hukum-hukum dan ibadah-ibadah dalam Islam, kemudian kembali kepada keluarga dan masyarakatnya untuk mengajari mereka ilmu agama itu.

Riwayat berikut ini sebagai penjelasnya, dari Malik Ibn al Huwarits, ia berkata, “Kami datang kepada Rasulullah, kami masih muda, lalu kami tinggal selama dua puluh hari di samping beliau, suatu ketika Rasulullah mengira bahwa kami telah rindu berat kepada keluarga. Kami memberitahukan kepada hal itu kepada Rasulullah, beliau sosok yang sangat santun dan penyanyang, beliau bersabda, ‘Kembalilah kepada keluarga kalian, lalu ajarilah dan perintahlah mereka. Shalatlah kalian seperti kalian melihat aku mengajarkan shalat. Dan apabila waktu shalat tiba, maka hendaklah diantara salah satu kalian mengumandangkan adzan untuk kalian, kemudian hendaklah yang paling tua diantara kalian menjadi imam.[4]


[1] Fathul Barry hal 172 dan 173, Juz Idan bandingkan dengan Musnad Ahmad hal 202, Juz V [2] Muqadimah I ushul at tafsir karya Ibnu taimiyyah, hal 6, Abu Abdurrahman adalah Abdullah Ibn Hubaib Ibn Rabi’ah, salah satu tabi’in besar, yang berguru langsung kepada Ustman, Ibnu Mas’ud dan zaid bin Tsabit, lihat Thabaqat Ibnu  Sa’d, hal 119, Juz VI dan tahzib at Tahdzib hal 183, JUZ V
[3] Muqadimah I ushul at tafsir karya Ibnu taimiyyah, hal 44
[4] Sahih Bukhori Bi hasiyah As Sandy hal 52, Juz IV


(Sumber:http://mahluktermulia.wordpress.com/2010/04/08/metode-pengajaran-rasulullah-kepada-para-sahabat-2/)
»»  Read more...

Metode Pengajaran Rasulullah kepada para sahabat #1

Metode yang ditempuh Rasulullah dalam mengajar para sahabatnya tidak terlepas dari metode yang ditempuh oleh Al Qur’an. Karena Rasulullah adalah penyampai Kitabullah, Beliau menjelaskan aspek-aspek hukum, menegaskan ayat-ayatnya serta mengaplikasikan Al Qur’an dalam kehidupan keseharian.

Al Qur’an turun secara bertahap kepada beliau selama kurang lebih 23 tahun. Rasulullah bertabligh kepada kaumnya dan masyarakat sekitarnya, merinci ajaran-ajarannya secara terperinci serta mempratikkan hukum-hukumnya.

Bila kita sadar kenyataan tersebut, maka seakan-akan kita menemukan sekolah yang besar, yang pengasuhnya adalah Rasulullah. Materi pelajarannya adalah Al Qur’an dan as Sunnah. Murid-muridnya adalah para sahabatnya. Seperti halnya Al Qur’an yang turun secara bertahap, as Sunnah juga tidak di bentuk sekaligus.[1]

As Sunah dibentuk untuk mendidik umat Islam, baik bekenaan dalam permasalahan agama, sosial, etika dan politik, dalam keadaan perang dan damai atau pun dalam kondisi mudah dan sulit serta mencakup aspek ilmiah dan amaliah, aspek teoritis dan praktis.
Berikut adalah bagaimana Rasulullah mengajar kepada para sahabatnya.

1. Pengajaran bertahap

Al Qur’an menempuh jalan bertahap dalam menentang akidah-akidah rusak dan tradisi-tradisi berbahaya dan memberantas segala bentuk kemungkaran yang dilakukan oleh umat manusia pada masa pra Islam (Jahiliyyah). Al Qur’an juga menggunakan cara bertahap dalam menancapkan akidah yang benar, ibadah, hukum, ajaran kepada etika luhur dan membangkitkan keberanian orang-orang yang berada disekitar Rasulullah agar selalu bersabar dan berteguh hati. Dalam semua hal itulah, Rasulullah menjelaskan Al Qur’an Al Karim, memberikan fatwa kepada manusia, melerai pihak-pihak yang bersengketa, menegakkan hukuman dan mempratekkan ajaran-ajaran Al Qur’an, semua itu merupakan sunah.

2. Pusat-pusat pengajaran

Rasulullah menjadikan Dar Al Aqram bin Abdi manaf di Makkah sebagai markas dakwah dalam Islam. Pada awalnya dakwah itu dilakukan secara tersembunyi. Tempat itu dikenal dengan sebutan “Dar Al Islam”. Kaum muslimin awal berkumpulnya disekitar Rasulullah menjauhi kaum musyrikin untuk membaca Al Qur’an, mempelajari dasar-dasar Islam dan menghafal Al Qur’an yang sedang turun kepada beliau. Kemudian tak seberapa lama, tempat tinggal Rasulullah di Makkah menjadi pusat kegiatan kaum muslimin dan pesantren yang mereka gunakan untuk menerima Al Qur’an dan as Sunnah dari Rasulullah.

Para sahabat mempelajari Al Qur’an dan as Sunnah secara berdampingan dan mereka saling memberitahu apa yang mereka ketahui, mereka selalu berkeinginan untuk menguasai apa yang disampaikan oleh Rasulullah. Disamping itu pusat kegiatan belajar tidak hanya di tempat-tempat khusus, melainkan terkadang Rasulullah di mintakan fatwa di tengah perjalanan, dan dimana saja beliau berada. Rasulullah selalu duduk bersama para sahabatnya dan memberikan pelajaran dan membersihkan hati mereka.[2]

Diriwayatkan dari Anas, bahwasannya tatkala mereka selesai menyelesaikan shalat subuh, mereka duduk membentuk halaqah, seraya membaca Al Qur’an dan mempelajari berbagai kefardluan dan kesunnahan.[3]

3. Kebaikan Pendidikan dan Pengajaran

Rasulullah merupan figur pendidik, penyelamat, dan pengajar sekaligus pembimbing. Beliau diutus untuk meyempurnakan akhlak, beliau bergaul dengan seluruh kaum muslimin dan kaum kafir dengan baik. Rasulullah bersabda “Bagi kalian aku hanyalah seorang ayah, karena itu bila kalian buang hajat, maka jangan menghadap kiblat dan jangan (pula) membelakanginya.[4]

Bila berbicara, Rasulullah menggunakan makna yang sangat jelas, diriwayatkan dari Aisyah ra, ia berkata, “Bahwa Rasulullah tidak berbicara secara beruntun seperti kalian (para sahabat), tetapi beliau (Muhammad) berbicara dengan bahasa yang tegas dan jelas sehingga bisa dihafal oleh pendengarnya”[5]
Bila ada yang bertanya, Rasulullah selalu memberikan jawaban yang lebih luas dari yang ditanyakan.[6]
Contohnya : Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda tentang (air) laut. “Laut itu airnya suci dan mensucikan, bangkainya pun halal.” Dikeluarkan oleh Imam Empat dan Ibnu Syaibah. Lafadh hadits menurut riwayat Ibnu Syaibah dan dianggap shahih oleh oleh Ibnu Khuzaimah dan Tirmidzi. Malik, Syafi’i dan Ahmad juga meriwayatkannya.

Rasulullah memberikan fatwa tersebut ketika ada seorang sahabat yang sedang berlayar namun tidak cukup membawa air untuk bersuci, sahabat bertanya: “Bolehkah aku berwudhu dengan air laut, kemudian Dari Abu Hurairah berkata, bahwa Rasulullah bersabda tentang (air) laut. “Laut itu airnya suci dan mensucikan, bangkainya pun halal.” Dikeluarkan oleh Imam Empat dan Ibnu Syaibah. Lafadh hadits menurut riwayat Ibnu Syaibah dan dianggap shohih oleh oleh Ibnu Khuzaimah dan Tirmidzi. Malik, Syafi’i dan Ahmad.



(Sumber: http://mahluktermulia.wordpress.com/2010/04/08/metode-pengajaran-rasulullah-kepada-para-sahabat-1/)
»»  Read more...

Konsepsi Pendidikan Rasulullah SAW (Konsep Nabawi)

Bismillahirrahmanirrahim. Postingan Edukasi Sepanjang Masa (ESM) kali ini akan menulis tentang konsep belajar dan pembelajaran Rasulullah SAW. Yang nyatanya memang suatu konsep pendidikan yang matang dan sangat kondisional dari masa ke masa hingga saat ini.

Jika kita menyimak segala aspek kehidupan Rasulullah SAW, maka kita akan menemukan lautan keajaiban-keajaiban yang seolah tiada tepinya. Baik itu dalam cara beliau memimpin, cara beliau bergaul termasuk cara beliau mendidik ummatnya. Di sana akan terlihat jelas, bagaimana dengan sarana dan prasarana yang minimal, beliau menapatkan hasil yang maksimal.

Para sahabat nabi umumnya adalah manusia-manusia yang secara akademis sangat tertinggal di banding bangsa-bangsa di sekitar Arabia. Seperti bangsa Mesir, bangsa Romawi ataupun bangsa Persia. Mereka adalah bangsa-bangsa tua yang sellama ratusan tahun telah akrab denga dunia tulis menulis, dunia perdebatan, dunia riset dan dunia buku. Sementara bangsa Arab saat itu hanya mengenal bersyair, ilmu berkuda dan riwayat-riwayat suku-suku. Karena itulah, kita hampir tidak menemukan satu pun peninggalan sejarah dalam bentuk fisik yang dihasilkan bangsa Arab sebelum Islam. Apalagi dalam bentuk tertulis.

Namun ketika Rasulullah SAW bangkit menyampaikan Islam, maka dengan secepat kilat bangsa Arab bangkit laksana raksasa yang baru bangun dari tidurnya. Secara militer, mereka telah melakukan pergerakan yang sedemikian cepat dengan menumbangkan para penguasa dzalim pada masa itu. Yaitu Kaisar Romawi di barat dan Maharaja Parsi di timur. Sementara secara moral, mereka telah menunjukkan dengan apik sebuah model pemerintahan yang melayani rakyat sebagai ganti periode sebelumnya dimana rakyat bukan hanya pelayan dari penguasa. Namun telah menjadi budak para penguasa. Dan dibidang kebudayaan, bangsa Arab yang bodoh telah bergerak cepat mengambil alih berbagai peradaban tua dan menyinarinya dengan cahaya Islam. Hingga kemudian lahirlah para ilmuwan Islam yang cukup terkenal hingga saat ini. Seperti Ibnu Sina ( kedokteran ), Al Mawardi ( ketatanegaraan ), Asy Syafi’I ( hukum ) dan lain-lain.

Yang menjadi pertanyaan bagi para pendidik adalah apakah rahasia Rasulullah SAW mendidik seorang jagoan kampung semacam Khalid bin Walid sehingga menjadi jenderal tak terkalahkan pada masanya. Atau preman pasar semacam Umar bin Khatab yang kemudian menjadi kepala negara yang susah dicari tandingannya di masa sekarang. Bagaimana budak semacam Salman Al Farisi yang sebelumnya hanya mengenal cara menanam dan merawat kurma di Madinah bisa menjadi gubernur yang sukses di Persia. Dan bagaimana pengembala kambing seperti Abdullah bin Mas’ud bias menjadi ahli tafsir Al Qur’an ?

Ada beberapa rahasia keberhasilan pendidikan yang dilakukan oleh Rasulullah shallallah ‘alayhi wa aalihi wa sallam.

Pertama adalah bahwa basis pendidikan yang beliau bangun adalah Iman. Hingga dengan keyakinan inilah, kemudian muncul pribadi-pribadi yang bisa mengendalikan diri dan pribadi-pribadi yang meyakini bahwa apa pun yang mereka lakukan kelak akan dimintai pertanggungan jawaban oleh Allah SWT. Sehingga akhirnya dari pancaran keimanan ini muncul pribadi-pribadi yang jujur, bertanggung jawab, amanah dan berakhlak mulia.

Kedua adalah bahwa Rasulullah SAW menjadikan akhlak sebagai bagian yang sangat penting dalam proses pembinaan ummat yang beliau lakukan. Hal ini beliau sampaikan dalam khutbah-khutbah yang beliau lakukan. Disamping itu, dalam kesempatan berbincang-bincang dan bergaul dengan para sahabat, beliau sangat menekankan aspek akhlak ini kepada mereka. Dan yang tak kalah pentingnya adalah bahwa Rasulullah SAW memberikan contoh konkret bagaimana bentuk akhlak yang mulia ini melalui perilaku belau sehari-hari. Haingga dari hasil pendidikan akhlak yang beliau lakukan, lahirlah insan-insan yang berbudi pekerti mulia. Dan ternyata kelak akhlak mulia yang dimiliki para sahabat ini menjadi modal yang besar bagi mereka dalam meraih kesuksesan dalam perjuangan yang mereka lakukan.

Ketiga adalah pendidikan berbasis minat dan bakat. Rasulullah SAW sangat tahu bahwa masing-masing sahabat beliau memiliki kelebihan-kelebihan dan keunikan-keunikan dimana yang satu berbeda dengan yang lain. Karena itulah, beliau tidak membebani mereka untuk melakukan sesuatu yang diluar bakat dan kapasitas alamiah mereka. Hingga akhirnya timbuhlah manusia-manusia istimewa dengan basis bakat alamiah mereka masing-masing.

Khalid bin Walid misalnya. Ia dari awal memiliki bakat kemiliteran yang menonjol. Karena itulah, Rasulullah shallallah ‘alayhi wa aalihi wa sallam membina Khalid agar menjadi panglima perang yang handal. Bukan menjadi ahli pengobatan atau ahli hukum. Zaid bin Haritsah lain lagi. Sahabat Nabi yang satu ini memiliki minat dan bakat dalam bidang berhitung dan bahasa asing. Maka sejak dini Rasulullah SAW membimbing Zaid sehingga ia menjadi ahli faroidh ( hukum waris ) disamping menjadi juru bahasa beliau dan sekretaris pribadi. Sementara Abdurrahman bin Auf memiliki bakat di bidang perdagangan. Maka beliau pun membinanya hingga akhirnya Abdurrahman bin Auf menjadi salah satu konglomerat Islam yang banyak memberikan sumbangan harta bagi kejayaan Islam dan kaum muslimin. Demikian juga dengan para sahabat yang lain. Mereka dibina oleh Rasulullah shallallah ‘alayhi wa aalihi wa sallam sesuai dengan bakat mereka masing-masing.
Keempat adalah pendidikan dengan basis doa dan riyadhoh ( tirakat ). Rasulullah SAW mengajarkan bahwa doa adalah sesuatu yang penting bagi setiap mukmin. Dan beliau pun memberi contoh bagaimana berdoa dalam berbagai situasi dan kondisi. Dengan berdoa dan riyadhoh, potensi lahiriah yang sebenarnya terbatas dapat dilipat gandakan dayagunanya sehingga dapat melebihi keadaan apabila tidak disertai doa.
Dengan demikian, upaya yang dilakukan bukan sekedar bertumpu pada kemampuan lahiriyah, namun juga didukung oleh ” kuasa langit ” sehingga kesuksesan dan kejayaan bisa diraih. Inilah yang juga sangat ditekankan oleh Al Qur’an dan Sunnah. Karena itulah, jika kita melihat kehidupan para sahabat Nabi, mereka ternyata adalah pelaku-pelaku olah spiritual yang sangat kuat dan ini menjadi salah satu rahasia keksuksesan dalam hidup mereka.

Dari semua dasar pendidikan di atas, hingga akhirnya muncul sekelompok manusia dengan keunikan masing-masing, berakhlak mulia serta dengan modal keimanan dan laku spiritual yang kuat, yang menyatu dalam Jama’ah Islam, bergerak dalam satu komando untuk menegakkan agama Allah SWT. Inilah rahasia mengapa pendidikan yang beliau lakukan membuahkan hasil yang gemilang.
»»  Read more...

Kamis, 22 Desember 2011

Pendidikan Seumur Hidup dalam Perspektif Islam

Pada kesempatan untuk posting kedua ini kami akan mengemukakan tentang pendidikan seumur hidup atau "long life education" dalam istilah orang Barat :D. Baagaima Pendidikan seumur hidup atau edukasi atau belajar seumur hidup dalam pandangan Islam?

Dalam perspektif Islam, pendidikan seumur hidup didasarkan pada fase-fase perkembangan manusia itu sendiri. Artinya, proses pendidikan itu disesuaikan dengan pola dan tempo, serta irama perkembangan yang dialami oleh seseorang sampai akhir hayatnya, yakni:
1. Masa al-Jauin (usia dalam kandungan)

Masa al-jauin, tingkat anak yang berada dalam kandungan dan adanya kehidupan setelah adanya ruh dari Allah swt. Pada usia 4 bulan, pendidikan dapat diterapkan dengan istilah “pranatal” atau juga dapat dilakukan sebelum ada itu menjadi janin yang disebut dengan pendidikan “prakonsepsi”. Karena itu, seorang ibu ketika mengandung anaknya, hendaklah mempersiapkan kondisi fisik maupun psikisnya, sebab sangat berpengaruh terhadap proses kelahiran dan perkembangan anak kelak.
2. Masa bayi (usia 0-2 tahun)

Pada tahap ini, orang belum memiliki kesadaran dan daya intelektual, ia hanya mampu menerima rangsangan yang bersifat biologis dan psikologis melalui air susu ibunya. Karenanya, dalam fase ini belum dapat diterapkan interaksi edukatif secara langsung. Proses edukasi dapat dilakukan menurut Islam adalah membacakan adzan di telinga kanan dan iqamah di telinga kiri ketika baru lahir, memberi nama yang baik ketika diaqiqah. Dengan demikian, di hari pertama dan minggu pertama kelahirannya, sudah diperkenalkan kalimat tauhid, selanjutnya diberi nama yang baik sesuai tuntunan agama.
3. Masa kanak-kanak  (usia 2-12 tahun)

Pada fase ini, seseorang mulai memiliki potensi-potensi biologis, paedagogis. Oleh karena itu, mulai diperlukan pembinaan, pelatihan, bimbingan, pengajaran dan pendidikan yang sesuai dengan bakat dan minat atau fitrahnya. Ketika telah mencapai usia enam tahun hendaklah dipisahkan tempat tidurnya dan diperintahkan untuk shalat ketika berumur tujuh tahun. Proses pembinaan dan pelatihan lebih efektif lagi bila dalam usia tujuh tahun disekolahkan pada Sekolah Dasar. Hal tersebut karena pada fase ini, seseorang mulai aktif dan mampu memfungsikan potensi-potensi indranya walaupun masih pada taraf pemula.
4. Masa puber (usia 12-20 tahun)

Pada tahap ini, seseorang mengalami perubahan biologis yang drastis, postur tubuh hampir menyamai orang dewasa walaupun taraf kematangan jiwanya belum mengimbanginya. Pada tahap ini, seseorang mengalami masa transisi, masa yang menuntut seseorang untuk hidup dalam kebimbangan, antara norma masyarakat yang telah melembaga agaknya tidak cocok dengan pergaulan hidupnya sehari-hari, sehingga ia ingin melepaskan diri dari belenggu norma dan susila masyarakat untuk mencari jati dirinya, ia ingin hidup sebagai orang dewasa, diakui, dan dihargai, tetapi aktivitas yang dilakukan masih bersifat kekanak-kanakan. Seringkali orang tua masih membatasi kehidupannya agar nantinya dapat mewarisi dan mengembangkan usaha yang dicapai orang tuanya. Proses edukasi fase puber ini, hendaknya dididik mental dan jasmaninya misalnya mendidik dalam bidang olahraga dan  memberikan suatu model, mode dan modus yang Islami, sehingga ia mampu melewati masa remaja di tengah-tengah masyarakat tanpa meninggalkan nilai-nilai Islam.
5. Masa kematangan (usia 20,30)
 
Pada tahap ini, seseorang telah beranjak dalam proses kedewasaan, mereka sudah mempunyai kematangan dalam bertindak, bersikap, dan mengambil keputusan untuk menentukan masa depannya sendiri. Proses edukasi yang dapat dilakukan adalah memberi pertimbangan dalam menentukan masa depannya agar tidak melakukan langkah-langkah yang keliru.
6. Masa kedewasaan (usia 30- …sampai akhir hayat)

Pada tahap ini, seseorang telah berasimilasi dalam dunia kedewasaan dan telah menemukan jati dirinya, sehingga tindakannya penuh dengan kebijaksanaan yang mampu memberi naungan dan perlindungan bagi orang lain. Proses edukasi dapat dilakukan dengan cara mengingatkan agar mereka lebih memperbanyak amal shalih, serta mengingatkan bahwa harta yang dimiliki agar dapat dimanfaatkan untuk kepentingan agama, negara dan masyarakat.
»»  Read more...

Rabu, 21 Desember 2011

Long Life Education "Belajar untuk hidup | Hidup untuk belajar"

Posting perdana di blog E.S.M. atau Edukasi Sepanjang Masa ini kami duplikasi dari Mbak Alviyana (http://alviyana.student.fkip.uns.ac.id/2011/12/14/long-life-education-aai-2011/). Terima kasih kami haturkan atas catatan kecilnya tentang Log Life Education. Mohon maaf sebelumnya posting tersebut kami share di blog ini hanya untuk memotivasi kami pribadi dan sahabat-sahabat kami, sekaligus untuk mengisi posting perdana di blog ini dan bukan bermaksud lain. Jazaakilaah khoira jazaa'.

Kami merasa ingin share tentang ini karena kami berpendapat bahwa menuntut ilmu itu adalah wajib ! Sepanjang hayat. Yaaa.... sepanjang masa, selama nafas masih berhembus :D.

"Tholabul-'ilmi fariidhatun 'alaa kulli muslimiina"

HUKUM MENUNTUT ILMU

Apabila kita memperhatikan isi Al-Quran dan Al-Hadist, maka terdapatlah
beberapa suruhan yang mewajibkan bagi setiap muslim baik laki-laki maupun
perempuan, untuk menuntut ilmu, agar mereka tergolong menjadi umat yang
cerdas, jauh dari kabut kejahilan dan kebodohan. Menuntut ilmu artinya
berusaha menghasilkan segala ilmu, baik dengan jalan menanya, melihat atau
mendengar. Perintah kewajiban menuntut ilmu terdapat dalam hadist Nabi
Muhammad saw :
“Menuntut ilmu adalah fardhu bagi tiap-tiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan”. (HR. Ibn Abdulbari)
Dari hadist ini kita memperoleh pengertian, bahwa Islam mewajibkan
pemeluknya agar menjadi orang yang berilmu, berpengetahuan, mengetahui
segala kemashlahatan dan jalan kemanfaatan; menyelami hakikat alam, dapat
meninjau dan menganalisis segala pengalaman yang didapati oleh umat yang
lalu, baik yang berhubungan dangan ‘aqaid dan ibadat, baik yang berhubungan
dengan soal-soal keduniaan dan segala kebutuhan hidup.

Nabi Muhammad saw. bersabda :
“Barang siapa menginginkan soal-soal yang berhubungan dengan dunia, wajiblah ia memiliki ilmunya ; dan barang siapa yang ingin (selamat dan berbahagia) diakhirat, wajiblah ia mengetahui ilmunya pula; dan barangsiapa yang
meginginkan kedua-duanya, wajiblah ia memiliki ilmu kedua-duanya pula”. (HR.
Bukhari dan Muslim)
Islam mewajibkan kita menuntut ilmu-ilmu dunia yang memberi manfaat dan berguna untuk menuntut kita dalam hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan kita di dunia, agar tiap-tiap muslim jangan picik, dan agar setiap muslim dapat mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan yang dapat membawa kemajuan bagi penghuni dunia ini dalam batas-batas yang diridhai Allah SWT. Demikian pula Islam mewajibkan kita menuntut ilmu akhirat yang menghasilkan natijah, yakni ilmu yang diamalkan sesuai dengan perintah-perintah syara’. Hukum wajibnya perintah menuntut ilmu itu adakalanya wajib ‘ain dan adakalanya wajib kifayah.
  1. Hukum Fardhu ‘Ain
Ilmu yang wajib ‘ain dipelajari oleh mukallaf yaitu yang perlu diketahui
untuk meluruskan ‘aqidah yang wajib dipercayai oleh seluruh muslimin , dan yang perlu di ketahui untuk melaksanakan pekerjaan-pekerjaan yang
difardhukan atasnya, seperti shalat, puasa, zakat dan haji. Disamping itu perlu dipelajari ilmu akhlak untuk mengetahui adab sopan
santun yang perlu kita laksanakan dan tingkah laku yang harus kita
tinggalkan. Selain hal tersebut harus pula mengetahui kepandaian dan keterampilan yang menjadi tonggak hidupnya.
Adapun pekerjaan-pekerjaan yang tidak dikerjakan sehari-hari maka di
wajibkan mempelajarinya kalau dikehendaki akan melaksanakannya, seperti seseorang yang hendak memasuki gapura pernikahan, seperti syarat-syarat dan rukun-rukunnya dan segala yang diharamkan dan dihalalkan dalam menggauli istrinya.
  1. Hukum Fardhu Kifayah
Sedang ilmu yang wajib kifayah hukum mempelajarinya, ialah ilmu-ilmu yang hanya menjadi pelengkap, misalnya ilmu tafsir, ilmu hadist dan sebagainya.

MENUNTUT ILMU SEBAGAI IBADAT.

Dilihat dari segi ibadat, sungguh menuntut ilmu itu sangat tinggi nilai
dan pahalanya, sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw.
“Sungguh sekiranya engkau melangkahkan kakinya di waktu pagi (maupun petang), kemudian mempelajari satu ayat dari Kitab Allah (Al-Quran), maka pahalanya lebih baik daripada ibadat satu tahun”.

Dalam hadist lain dinyatakan :
“Barang siapa yang pergi untuk menuntut ilmu, maka dia telah termasuk
golongan sabilillah (orang yang menegakkan agama Allah) hingga ia sampai pulang kembali”.

Mengapa menuntut ilmu itu sangat tinggi nilainya dilihat dari segi
ibadat?. Karena amal ibadat yang tidak dilandasi dengan ilmu yang
berhubungan dengan itu, akan sia-sialah amalnya. Syaikh Ibnu Ruslan dalam
hal ini menyatakan :
“Siapa saja yang beramal (melaksanakan amal ibadat) tanpa ilmu, maka
segala amalnya akan ditolak, yakni tidak diterima”.

DERAJAT ORANG YANG BERILMU.

Kalau kita telah mempelajari dan memiliki ilmu-ilmu itu, apakah kewajiban kita yang harus ditunaikan?
Kewajiban yang harus ditunaikan ialah mengamalkan segala ilmu itu, sehingga menjadi ilmu yang bermanfaat, baik untuk diri kita sendiri maupun bagi orang lain.
Agar bermanfaat bagi orang lain hendaklah ilmu-ilmu itu kita ajarkan kepada mereka. Mengajarkan ilmu-ilmu ialah memberi penerangan kepada mereka dengan uraian lisan, atau dengan melaksanakan sesuatu amal di hadapan mereka, atau dengan jalan menyusun dan mengarang buku-buku untuk dapat diambil manfaatnya.
Mengajarkan ilmu kecuali memang diperintah oleh agama, sungguh tidak
disangkal lagi, bahwa mengajar adalah suatu pekerjaan yang seutama-utamanya.
Nabi diutus ke dunia inipun dengan tugas mengajar, sebagaimana sabdanya :
“Aku diutus ini, untuk menjadi pengajar”.(HR. Baihaqi)
Sekiranya Allah tidak membangkitkan Rasul untuk menjadi guru manusia, guru dunia, tentulah manusia tinggal dalam kebodohan sepanjang masa.
Walaupun akal dan otak manusia mungkin menghasilkan berbagai ilmu
pengetahuan, namun masih ada juga hal-hal yang tidak dapat dijangkaunya,
yaitu hal-hal yang di luar akal manusia. Untuk itulah Rasul Allah di
bangkitkan di dunia ini.
Mengingat pentingnya penyebaran ilmu pengetahuan kepada manusia/masyarakat secara luas, agar mereka tidak dalam kebodohan dan kegelapan, maka diperlukan kesadaran bagi para mualim, guru dan ulama, untuk beringan tangan menuntun mereka menuju kebahagian dunia dan akhirat. Bagi para guru dan ulama yang suka menyembunyikan ilmunya, mendapat ancaman, sebagaimana sabda Nabi saw.
Artinya :”Barang siapa ditanya tentang sesuatu ilmu, kemudian menyembunyikan (tidak mau memberikan jawabannya), maka Allah akan mengekangkan (mulutnya), kelak dihari kiamat dengan kekangan ( kendali) dari api neraka”.(HR Ahmad)
»»  Read more...

kabar berita dari langit

kampoeng damaikoe